Senin, 13 November 2017

PEMBELAJARAN: DARI WINNING KE BEING FORMULA


Oleh: Andrias Harefa **

Sometimes an ounce of perception takes
a ton of education to change.
 Tom Anderson

Selama  belasan  tahun  saya  berkecimpung  dalam  dunia  bisnis, memainkan berbagai peran mulai dari wiraniaga, penulis-pengarang, konsultan di bidang pengembangan sumber daya manusia, wirausaha mandiri,  pengajar,  pelatih,  fasilitator  pembelajaran,  pembicara motivasi, dan terakhir Presiden Indonesia School of Life. 

Dalam  kurun  waktu  tersebut  saya  banyak  dipengaruhi  oleh konsep-konsep  winning  formulas  (formula-formula untuk  mencapai keberhasilan)  yang  ditawarkan  oleh,  antara  lain,  Dale  Carnegie, Frank  Bettger,  Norman  Vincent Peale, Robert  Schuler,  Zig  Ziglar, Denis  Waitley,  John  Wareham,  Albert  Gray,  Maxwell  Maltz,  Og Mandino,  Brian  Tracy,  Napoleon  Hill,  Anthony  Robbins,  Stephen Covey, Colin Turner, Daniel Goleman, Robert Kiyosaki, dan entah siapa  lagi.  Meski  tidak  seluruh  pandangan  para  tokoh  yang  relatif populer itu dapat saya sepakati, namun harus saya akui mereka ikut membentuk persepsi saya mengenai banyak aspek kehidupan.


Krisis yang menerkam Indonesia pertengahan 1997 membuat saya  tersentak.  Lalu  saya  mencoba  menata  kembali  persepsi  saya dengan  banyak  melakukan  refleksi  dan  perenungan  diri.  Berbagai winning  formulas  itu  saya  telaah  lagi  satu-satu.  Sampai  akhirnya saya yakin bahwa yang harus saya ambil dari berbagai ide para tokoh itu bukanlah  winning formula  yang mereka rumuskan, tetapi justru hal-hal yang tersirat dalam setiap tampilan winning formula itu.

Maka  sejak  awal  1998,  saya  memilih  untuk  meninggalkan karier  profesional  saya  dan  mencoba  untuk  mencari  apa  yang mungkin  lebih  tepat  disebut  sebagai  "being  formula"  (formula menjadi atau mengada). Dan pencarian itulah yang membawa saya "menemukan"  konsep  yang  kemudian  saya  susun  dalam  buku bertajuk Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000).
Meski  buku  Menjadi  Manusia  Pembelajar  (selanjutnya  disingkat  MMP)  saya  tulis  secara  maraton  kurang  dari  3  bulan, namun  ide-ide  yang  tercakup  dalam  buku  itu  merupakan  proses pemikiran  yang  sudah  dimulai  sejak  tahun  1982,  yakni  saat  saya mulai  berkenalan  dengan  pemikiran-pemikiran  kritis  kontemplatif dari  Ahmad  Wahib  dan  kemudian  Soe  Hok  Gie.  Kebetulan  duaduanya aktivis mahasiswa yang meninggal dalam usia muda. Wahib  menjadi  korban  tabrak  lari  di  sekitar Proyek  Senen,  Jakarta Pusat. 

Hok Gie, meninggal karena gas beracun yang terhirup olehnya saat berada di kawah Mahameru di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur. Dan  dua-duanya  meninggalkan  catatan  harian  yang  luar  biasa. Bahkan bagi saya pribadi, catatan harian kedua tokoh tersebut jauh lebih bermanfaat ketimbang seluruh diktat kuliah yang pernah saya terima selama lima tahun menggelandang di Kampus Biru UGM. Sejak jatuh cinta pada pemikiran Wahib dan Hok Gie, saya jadi  terobsesi dengan  pertanyaan-pertanyaan  seperti: bila  saya mati muda,  apakah  yang  akan  saya  tinggalkan  untuk  bangsa  saya  ini? 

Mampukah  saya  memberikan  sedikit  makna  atas  kehadiran  saya disini  dan  kini?  Siapakah  saya  ini,  darimana  saya  berasal,  dan kemana saya akan pergi? Apa peran dan tanggung jawab yang harus saya  tunaikan?  Apakah  saya  ini  seorang  beragama  (formal)  atau benar-benar beriman (informal)? Dan sebagainya. Setelah 18 tahun mengunyah-ngunyah  pertanyaan  eksistensial  semacam  itu,  saya akhirnya berhasil juga menyatakan sikap pribadi saya dalam sebuah buku. Dan itulah MMP.

Dalam MMP saya menyatakan keyakinan saya yang "tidak ilmiah",  bahwa  manusia  dilahirkan  dengan  tugas,  panggilan  dan tanggung  jawab  untuk  menjadi  pembelajar,  pemimpin  dan  guru bangsa.  Itulah  tri-tugas  kemanusiaan universal.  Tiap  manusia  perlu menjadi  pembelajar,  karena  ia adalah  pendosa,  pembuat kesalahan, mahluk  yang  belum  siap,  dan  mahluk  yang  potensial.  Dan  bila  ia belajar  dengan  lahap,  maka  ia  dimungkinkan  menjadi  pemimpin, menjadi  manusia  yang  berani  dan  mampu  memikul  beban  untuk melayani konstituen yang menghadiahkan kepadanya suatu hal yang amat penting, yakni kepercayaan. 

Kepemimpinan  itu,  pertama-tama  dan  terutama,  adalah sebuah  tugas  pekerjaan  dan  bukan  jabatan atau  kedudukan  formal. Meminjam  konsep  Max  De  Pree,  saya  tegaskan  bahwa  orang menjadi  pemimpin  dengan  cara  mengerjakan  pekerjaan  sebagai pemimpin, terlepas dari apakah ia secara formal memangku sebuah jabatan  atau  tidak.  Hanya  bila  tugas  kepemimpinan  ini  dihayati dengan  benar,  maka  tiap  orang  akan  diperhadapkan  kembali  pada pilihan untuk naik ke tahap tertinggi, menjadi guru bangsa dan guru umat manusia.

Jadi,  dalam  pandangan  saya, menjadi pemimpin itu sebuah prestasi gemilang. Tidak semua orang akan mampu sampai ke tahap  itu. Namun  itu bukan tahap tertinggi dalam tugas, tanggung jawab, dan panggilan hidup manusia. Ia masih dimungkinkan, dengan terus menerus  belajar,  mencapai  tahap  manusia  guru,  yang  utamanya mendemonstrasikan sikap hidup altruistik seperti di teladankan oleh para  pendiri  agama-agama  besar  di  dunia.  Dan  yang  terakhir  ini  bukan  soal  prestasi  tapi  soal  pilihan  pribadi  untuk  justru "melepaskan" semua prestasi.
***
Respons masyarakat terhadap buku MMP jauh di atas perkiraan saya. Bulan  pertama,  September  2000,  buku  tersebut  terjual  habis  dan sempat  kosong  dipasaran  karena  proses  cetak  ulangnya  terlambat. Bulan  berikutnya  sambutan  masih  meriah,  sehingga cetakan  ketiga menyusul. Bulan ketujuh, cetakan keempat beredar di pasaran. Tak pelak  lagi,  ia  bertengger  menjadi  #  1  Bestseller  Book  di  Penerbit Buku Kompas.

Dalam  periode  yang  sama,  saya  menerima  begitu  banyak respons positif dalam bentuk undangan diskusi dan seminar, baik di kalangan  pebisnis  (perusahaan),  maupun  kalangan  praktisi  dan akademisi di bidang pendidikan, dari Jayapura sampai Medan. MMP kemudian menjadi bacaan wajib di berbagai perusahaan, khususnya untuk  level  yunior  manajer  ke  atas,  diresensi  oleh  berbagai  media cetak dan elektornik dalam skala lokal maupun nasional. 

Karenanya, saya lalu membentuk Komunitas Pembelajar Mahardika (KPM) yang
merupakan wadah informal bagi peminat konsep MMP. Atas budi baik Saudara Ang Tek Khun dan Hendri Bun di Yogyakarta,  KPM  kemudian  hadir  meramaikan  dunia  maya  lewat situs  http://www.pembelajar.com/  (mulai  14  Februari  2001).  Dan berbagai pihak yang tertarik untuk sama-sama bergerilya mengajak masyarakat untuk belajar (dalam arti learn, unlearn, dan relearn) saya undang  untuk  menjadi  kontributor  ide  dengan  menyumbangkan pengetahuannya  secara  cuma -cuma  dan  suka  rela  untuk  dimuat dalam situs tersebut. Sampai tulisan ini dibuat, kolumnis sukarela di pembelajar.com tak kurang dari 10 orang. 

Saya  merasa  bahwa  apa  yang  sebenarnya  ingin  saya tawarkan kepada masyarakat bukanlah  winning and success formula,  tetapi  mungkin  lebih  dekat  dengan  pengertian  being  formula. Saya  tidak  menawarkan  suatu  cara  menuju  keberhasilan,  tetapi menawarkan perspektif untuk mengelola baik keberhasilan maupun kegagalan  dalam  sebuah  proses  menyatakan  diri,  memberikan konstribusi, melayani dan memberi makna hidup. Apa yang bisa disebut sebagai winning and success formulas hampir  dapat  dipastikan  memberikan  petunjuk  ini  dan  itu.  Ia berangkat  dari  sebuah  pandangan  tentang  bagaimana  mencapai keberhasilan  hidup.  Ia  memberikan  semacam  "resep",  dan mendiktekan  hal  itu  kepada  khalayak  ramai.  Orang-orang  yang membuat  "resep"  itu  tentu  diasumsikan  sebagai  orang-orang  yang "sukses" dan "berkemenangan" dalam hidupnya. Orang gagal, miskin raya,  dan  para pecundang  (loosers),  tidak  berhak  membuat "resep"  semacam itu.

Sebaliknya,  being  formula  tidak  berangkat  dari  pandangan yang  demikian.  Ia  justru  berangkat  dari  kesadaran  bahwa  dalam hidup ini winners or losers, orang sukses atau orang gagal, si kaya dan si miskin, semua saja "sama saja". Mereka sama-sama manusia yang  diciptakan  Sang  Pencipta.  Mereka  sama-sama  memiliki kelebihan  dan  sekaligus  kelemahan.  Mereka  sama-sama  pembuat kesalahan, orang berdosa. Karenanya, dalam being formula tidak ada
kiat-kiat praktis dan cara-cara cespleng meraih kesuksesan. Yang ada justru  setumpuk  pertanyaan  untuk  dicarikan  jawabannya  sepanjang hayat  di  kandung  badan.  Mereka  yang  menawarkan  being  formula pada dasarnya adalah peragu, penggugat kemapanan atau  status quo, dan pencari kebenaran yang mengajak orang bersama-sama menjadi gelisah.
***

nanti bila aku mati, entah muda atau tua, apakah yang akan kutinggalkan bagi bangsaku? apakah yang akan dikenang oleh anak cucu keturunanku? adakah makna kehadiranku dalam sejarah bangsaku?

nanti bila aku mati, entah muda atau tua, adakah pasir-pasir kehidupan yang sempat kubalut dengan keringat dan darahku, hingga menjadi mutiara yang indah, yang dapat dikenakan mereka yang lahir setelah aku, untuk dapat berdandan, tampil cantik dan tampan, dalam pergaulan bangsa-bangsa berperadaban? ataukah pasir-pasir kehidupan itu telah menghancurkan seluruh
hidupku, ditelan kebiadaban bangsa sendiri?

nanti bila aku mati, entah muda atau tua, adakah kuwariskan sejumlah kata-kata yang membebaskan dari keterbelakangan dan kemiskinan yang mencerahkan dari kebebalan akibat penyeragaman yang meneduhkan dari teriknya kehidupan yang membangun harapan dari keputusasaan adakah?

*) artikel ini merupakan saduran dari Catatan Awal dalam buku Mutiara Pembelajar (GCM, 2001).
**) Andrias Harefa, pemrakarsa dan pengelola pembelajar.com, pendiri dan pengelola indonesia school of life-family, corporate, and society-based education, telah menulis 17-an buku laris yang diterbitkan gramedia, andi, dan penerbit buku kompas (september 1998-sekarang), berpengalaman mengajar, melatih dan membuat kurikulum pengajaran dan pelatihan bagi puluhan ribu orang selama 19 tahun terakhir. Andrias Harefa, bekerja sebagai knowledge entrepreneur, learning partner, motivational speaker, dan penulis beberapa buku best-seller terbitan Gramedia Pustaka Utama dan Penerbit KOMPAS. Andrias Harefa, pemrakarsa dan pengelola pembelajar.com, pendiri dan pengelola indonesia school of lifefamily, corporate, and society-based education, telah menulis 17-an buku laris yang diterbitkan gramedia, andi, dan penerbit buku
kompas (september 1998-sekarang), berpengalaman mengajar, melatih dan membuat kurikulum pengajaran dan pelatihan bagi puluhan ribu orang selama 19 tahun terakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Metode Ormond McGill

Di translate dari buku hypnosis stage ensiklopedia karya Ormond Mcgill Ini adalah metode personal saya dalam menghipnotis yang telah...