Senin, 13 November 2017

Diskusi homoseksualitas


Dialog ini terbit di milis Indo-Marxis pada tahun 1999.
Dari "Sosialisme di Dunia Moderen":
Kita juga harus melawan penindasan terhadap kaum homoseksual dan lesbian (gay).
Kaum gay seringkali dikambing-hitamkan sebagai biang keladi dari masalah-masalah
sosial, padahal justru mereka yang menjadi korban.
Penindasan terhadap kaum gay juga berkaitan dengan keperluan sistem kapitalis untuk
memproduksi tenaga kerja dan struktur-struktur ideologis lewat keluarga "normal".
Orang yang tidak menyesuaikan diri untuk memainkan peranan sebagai laki-laki atau
perempuan "normal" dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban sosial. Prasangka
ini tercerminkan pula dalam struktur-struktur sosial-budaya, dimana kaum gay dianggap
tidak senonoh, dan bisa di-PHK, dipukul, bahkan dibunuh lantaran gaya hidup mereka
yang lain.
Sebetulnya kita semua dirugikan oleh situasi ini, karena terpaksa kita harus hidup
menurut pola tindak-tanduk yang kelewat sempit (konservatif). Makanya, semestinya kita
menyambut dengan antusias munculnya organisasi gay dewasa ini yang
memperjuangkan hak-hak mereka.
****
Surat-menyurat dari milis "Indo-Marxis":
Dari seorang peserta: "Aku tertarik dengan permasalahan gay. Sekarang ini kaum
homoseksual sudah banyak keluar', menunjukkan diri mereka sebenarnya, misalnya di
salah satu >acara tv swasta (sorry lupa) yang pesertanya banyak gay. Dari penganut
agama yang fanatik jelas sulit menerima kehadiran mereka, bahkan di keluarga pun
banyak yang dikucilkan. Ini tentu tak lepas dari sistem negara kita yang tidak memberi
tempat bagi kaum homoseksual (bahkan cross-dressing pun tidak bisa diterima! Padahal
perempuan bebas memakai baju laki-laki, tapi kalau laki-laki memakai rok, atau
daster?)."
Julian: Hak perempuan untuk pakai celana juga harus diperjuangkan; saya masih ingat
pada tahun 1970 ada seorang cewek kulit hitam yang bekerja di tempat saya juga kerja;
dia orang kulit hitam yang pertama yang boleh bekerja di perusahaan tersebut (ini di
Amerika). Dan dia muncul dengan celana jeans. Karena masalah ras begitu peka, kaum
majikan tidak berani melarang celana jeans itu. Itu pertama kali mereka izinkan
perempuan memakai celana.
"Aku kurang paham kaitannya dengan kapitalisme."
Julian: Beberapa pikiran dulu, nanti saya cari data dan referensi. Hal ini sudah menjadi
perdebatan yang kompleks. Tapi pada dasarnya saya kira soal ini berkaitan dengan
penindasan terhadap perempuan. Peranan laki-laki dan perempuan masing-masing
ditentukan secara keras oleh tatanan sosial yang ada (itu kami jelaskan dalam teks
tentang masalah gender). Sehingga seseorang yang tidak menerima peranan tersebut
dianggap mengancam tatanan sosial. Jadi segala macam pantangan dikembangkan oleh
pemerintah, lembaga-lembaga agama dsb dan kemudian menjadi sebagian dari ideologi
kapitalisme.
****
Kiriman tambahan dari Julian:
Saya diminta memberi penjelesan tentang hubungan antara kapitalisme dan penindasan
terhadap kaum gay, dengan referensi. Dalam balasan pertama saya tulis bahwa ini
berkaitan dengan penindasan terhadap perempuan. Peranan laki-laki dan perempuan
masing-masing ditentukan oleh tatanan sosial (melalui mekanisme-mekanisme yang
cukup kompleks tentunya) dan fenomena homosekual-lesbian tidak bisa ditolerir karena
melanggar batasan antara peranan itu.
Dan saya baru temukan sebuah referensi yang menarik. Komentar yang berikut saya
ambil dari Jeffrey Weeks, "Capitalism and the Organisation of Sex", dalam
"Homosexuality: Power and Politics", Allison & Busby, London, 1980.
Di Inggeris, homoseksualitas tidak dilarang sebelum tahun 1885. (Setelah tahun itupun,
para lesbian tidak dihiraukan sama sekali.) Yang dilarang adalah bersodomi, tetapi itu
juga ilegal buat para heteroseksual. Di sini kita sudah melihat satu aspek yang penting:
sodomi tentu saja diharamkan karena hubungan seks dianggap sesuatu yang
dimadsudkan untuk bikin anak, dalam konteks perkawakinan antara lelaki dan
perempuan, supaya harta si lelaki bisa diwariskan dsb.
Meski demikian, homoseksualitas baru menjadi masalah besar setelah timbulnya
kapitalisme. Menurut Jeffrey Weeks, seorang ahli di bidang ini yang berhaluan kiri:
"sejak pertengahan abad XVIII bentuk keluarga monogami dan heteroseks semakin
ditekankan dalam ideologi borjuis sebagai unit dasar dalam masyarakat. Masyarakat
beralih dari model keluarga yang menekankan garis silsilah dan reproduksi tradisi
keluarga (sehingga yang penting adalah memilih calon istri/suami dari keluarga lain
yang sesuai) kepada sebuah model yang menekankan pilihan pribadi berdasarkan
keinginan emosional. Sekurang-kurangnya dalam ideologi, yang menyatukan keluarga
itu adalah cinta dan seks ... Tekanan ini asal-usulnya bisa ditemukan dalam
perkembangan ekonomi (pemisahan kaum perempuan dari kerja sosial), ideologi
(tekanan yang lebih besar pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta
konstruksi sosial dari sifat-sifat "kelelakian" dan "kewanitaan") dan politik (karena
keluarga selama abad XIX dilihat sebagai faktor pokok bagi menjamin kestabilan serta
mengurangi ketegangan sosial, dan sebagai tempat berlindung pribadi yang damai dan
tenteram) ..."
Homoseksual(itas) sebagai identitas (dan istilah homoksekual itu sendiri) baru muncul
pada saat itu.
****
Komentar dari Dede Oetomo:
Kw. Julian yang budiman
Secara umum, penindasan terhadap apa yang sekarang kita kenal dengan konsep
homoseksualitas, perilaku homoseksual, dan kaum gay, lesbian dan biseksual,
dihubungkan dengan institusi keluarga (n.b. heteroseksual) di dalam kapitalisme. Dalam
hal ini kita mengikuti pemikiran Marxis yang diuraikan Engels dalam tulisannya "The
Origin of the Family, Private Property and the State". Ideologi keluarga, hak milik
pribadi dan negara inilah yang mengharamkan homoseksualitas, karena bertentangan
dengan asas bahwa keluarga sebagai institusi ekonomi dalam sistem kapitalis bersifat
heteroseksual dan monogam.
Perlu juga diingat dalam hubungannya dengan kapitalisme adanya dan
dipertahankannya fetisyisme perbedaan homoseksual-heteroseksual itu sendiri, padahal
kita tahu bahwa dalam kenyataan keadaannya jauh lebih kompleks daripada dikotomi
seperti itu. Fetisyisme ini juga menindas mereka yang sebetulnya tidak patut atau tidak
pas dikotakkan dalam satu orientasi seksual atau yang lainnya, melainkan memiliki
kompleksitas sendiri.
Kajian yang sedang ditulis mengenai homoseksualitas di Indonesia, oleh Thomas
Boellstorff di Universitas Stanford, jelas menunjukkan bahwa penindasan bagi mereka
yang telanjur terjebak dalam kekakuan identitas tadi berbentuk heteroseksisme, yakni
ideologi dominan bahwa hanya hubungan heteroseksual monogam di dalam keluargalah yang sah.
Untuk meninjau masyarakat seperti Indonesia, di mana ada berbagai formasi sosial
sekaligus, perlu dibedakan dalam formasi sosial mana seseorang yang berperilaku
homoseksual, berorientasi homoseksual ataupun beridentitas homoseksual/gay berada.
Dalam hal ini kajian yang komprehensif telah dilakukan dan diterbitkan dalam _New
Left Review_ (No. 218, July/August 1996) oleh Peter Drucker, berjudul "'In the Tropics
There Is No Sin': Sexuality and Gay-Lesbian Movements in the Third World" (hal. 75-101).
Dengan merujuk pada kajian Drucker itu, dapatlah kita pahami bahwa karena Indonesia
lama berada dalam sistem kapitalisme kolonialis dan imperialis, maka banyak aspek
homoseksualitas yang terpengaruh, misalnya saja fetisyisme pemujaan terhadap gay
putih/barat yang berlebihan. Juga dikesampingkan, ditutup-tutupi atau dilecehkannya
bentuk-bentuk homoseksualitas (yang kadang melibatkan transgenderisme) dari formasiformasi sosial prakapitalis.
Akan halnya penindasan dari berbagai agama besar, perlu dicatat bahwa komunitas
agama-agama ini juga tergulung dalam perkembangan kapitalisme, sehingga moralitas
seksual modern-nya juga amat kuat menindas apa-apa yang dipandang
antiheteroseksisme, antikeluarga. Di pihak lain, masih ada juga moralitas seksual dari
formasi sosial prakapitalis, yang menimbulkan penindasan yang berbentuk lain pula.
Keanekaragaman formasi sosial, konstruksi seksualitas dan penindasannya itulah yang
acapkali membingungkan orang yang hendak membicarakan homoseksualitas dan
kapitalisme di negeri-negeri macam Indonesia.
Tak boleh dilupakan juga berpikir secara dialektis: perlawanan terhadap heteroseksisme,
menumpang industri budaya populer a la Hollywood, juga menumpang kapitalisme
datang ke sini. Hal ini pulalah yang membuat kondisi, dan tentunya analisis, menjadi
makin kompleks.
Salam demokrasi!
Dede Oetomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Metode Ormond McGill

Di translate dari buku hypnosis stage ensiklopedia karya Ormond Mcgill Ini adalah metode personal saya dalam menghipnotis yang telah...